Selasa, Oktober 08, 2013

Resensi: Wajah Baru Relasi Suami-Istri, Telaah Kitab 'Uqud al-Lujjayn

Buku ini ditulis oleh Forum Kajian Kitab Kuning (FK3) dalam bentuk yang cukup apik, yaitu telaah kritis mengenai kitab ‘Uqud Lujjayn yang ditulis oleh Syaikh Nawawi Al-Banteni. Buku ini berusaha mengkritisi kita ‘Uqud Lujjayn dengan perspektif gender, sehingga banyak aspek dalam kitab ini yang terkena kritik dari FK3.

Buku ini berbentuk syarh, di mana teks asli (terjemahan) ditulis dalam arsiran hitam, sedangkan telaah mengenai ayat Al-Qur’am hadits, tokoh serta kritik terhadap tulisan tersebut ada di bawahnya. Sistematika penulisan buku ini mengikuti kitab ‘Uqud Lujjayn yang asli. Bab I membahas mengenai kewajiban suami terhadap istri, bab II membahas kewajiban istri terhadap suami, bab III membahas keutamaan salat di rumah bagi wanita, bab IV mengenai larangan melihat lawan jenis, dan penutup yang membahas tingkah laku wanita.

Di sini, FK3 banyak mengkritisi pola hubungan suami istri yang bias gender. Berangkat dari pikiran tersebut, FK3 meluruskan tafsiran ayat-ayat Al-Qur’an serta hadits-hadits Nabi agar tidak lagi bias gender, seperti ayat qawwamah, waris, keutamaan salat di rumah dan sebagainya. Untuk mendukung argumen mereka, mereka banyak merujuk kepada pendapat Muhammad Abduh dan Quraish Shihab. Mereka juga mentakhrij hadits-hadits yang ada di dalam kitab tersebut, dan ternyata banyak mereka temukan hadits-hadits yang dha’if, bahkan maudhu’. Selain itu mereka banyak menggunakan nalar dan rasio dalam menghukumi sebuah fenomena, sehingga dalam buku ini banyak ditemukan ‘kami berpendapat’, atau ‘menurut kami’ dan sebagainya.

Sejatinya, buku ini sangatlah baik. Buku ini mengupas tuntas mengenai ayat, hadits, hikayat dan tokoh-tokoh yang ada di dalam kitab ‘Uqud Lujjayn. Namun yang disayangkan, buku ini sedikit ‘disisipi’ oleh isu kesetaraan gender. Sebenarnya FK3 tidak banyak merujuk secara langsung ke tulisan-tulisan orientalis ataupun feminis, justru mereka lebih banyak merujuk ke buku dan ulama’ ahlussunnah. Namun karena perspektif yang digunakan adalah kesetaraan gender, dan kebanyakan tidak ditemukan pendapat ulama’ ahlussunnah yang secara eksplisit mendukung gerakan tersebut, maka pada akhirnya mereka banyak ‘berkami-kami’ atau menggunakan akal pikiran mereka sendiri.


Buku ini sangat baik, pesan kesetaraan gender yang diusungpun sangat halus. Meski demikian, perlu kehati-hatian dalam memahaminya agar jangan sampai terjebak pada pemahaman agama yang tidak tepat. Wallahu A’lam.

Penulis             : Forum Kajian Kitab Kuning (FK3)
Penerbit           : LKiS Yogyakarta
Cetakan           : I, November 2001
Halaman          : xxviii + 210 halaman; 14.5 x 21 cm

0 komentar: