Jumat, Oktober 18, 2013

Resensi: Poros-Poros Ilahiyah, Perempuan dalam Lipatan Pemikiran Muslim Tradisional versus Liberal

Buku ini merupakan buku yang ditulis untuk mengetahui isu gender yang ada dalam dunia Islam tradisional dan Islam liberal. Untuk mewakili dunia Islam tradisional, penulis buku menggunakan tokoh Murtadha Muthahhari, seorang ulama’ Syi’ah pada awal abad kedua puluh. Untuk mewakili dunia Islam liberal, penulis buku memilih Muhammad Syahrur, seorang pemikir Islam liberal pada pertengahan abad kedua puluh. Kedua tokoh ini dipilih oleh penulis karena keduanya memiliki pandangan yang berbeda dengan aliran mainstream yang ada saat itu.

Buku ini terbagi kepada dua bagian besar.  Bagian pertama membahas mengenai relasi gender dalam pandangan poros tradisional yang diwakili oleh Murtadha Muthahhari. Dalam bagian ini, penulis buku membahas banyak hal, mulai dari wacana yang muncul, kerangka dan konsep berpikir Muthahhari, hingga intisari pemikirannya. Di sini, penulis buku menerangkan bahwa pemikiran Muthahhari tentang relasi gender banyak terfokus pada hukum keluarga, seperti poligami, talak, waris dan mut’ah. Hal tersebut banyak dipengaruhi oleh munculnya rezim Pahlavi (1925-1979) di Iran yang gencar melakukan westernisasi di segala aspek kehidupan. Sumbangsih pemikiran Muthahhari banyak disumbangkan untuk melawan arus westernisasi yang kencang pada waktu itu. Meski demikian, ia tidak serta merta terjebak pada arus pemikiran ulama’ salaf yang menurutnya masih bias gender, namun ia dengan pemikirannya mengusung kesetaraan gender, namun bukan kesetaraan identik yang diinginkan barat ketika itu, melainkan kesetaraan kontekstual.

Pada bagian kedua, dijelaskan secara panjang lebar mengenai poros liberal yang diwakili oleh Muhammad Syahrur. Pola pembahasan dalam bagian ini tidak persis sama dengan pembahasan bagian pertama, di mana dalam bagian ini dijelaskan biografi Syahrur, kemudian sumbangsihnya kepada pemikiran Islam secara umum dan terakhir pemikirannya mengenai problem relasi gender. Dalam bagian ini, penulis buku menjelaskan bahwa Syahrur, seorang sarjana teknik lulusan Moskow, menggunakan metode defamiliarization di mana Syahrur mengedepankan metode penelitian bahasa yang ‘tidak biasa’ dan mengesampingkan proses otomisasi. Hal ini menjadikan pemikiran-pemikirannya sangat liberal dan bertolak belakang dengan pemikiran ulama’ salaf. Dalam kaitannya dengan problem relasi gender, Syahrur mengadopsi pemikiran-pemikiran barat yang ‘menyetarakan’ perempuan dan laki-laki, kemudian menafsirkan kembali ayat-ayat Al-Qur’an agar dapat mengakomodir pemikirannya tersebut.

Dari sedikit penjelasan di atas, terlihat bahwa penulis buku tidak ‘mendudukkan’ Islam dengan benar. Bagaimana mungkin kubu Islam yang menurutnya ‘tradisional’ diwakili oleh seorang Syi’ah, padahal masih banyak ulama’ulama’ yang lebih kompeten dalam pemahaman teks-teks agama, seperti Al-Ghazali, Ibnu Taimiyyah, hingga Wahbah Zuhaili. Ditambah lagi dengan penamaan buku ‘poros ilahiyah’, seakan ingin membentuk opini pembaca bahwa dalam Islam ada dua poros yang dapat dirujuk, yang keduanya ternyata sama-sama sesat, yaitu syi’ah dan liberal.

Terakhir, buku ini cukup baik dalam memberikan penjelasan mengenai tokoh-tokoh terkait di dalamnya, yaitu Muthahhari dan Syahrur. Namun pemilihan judul yang ‘apik’ pada akhirnya dapat mengecoh pembaca sehingga terjebak pada keragu-raguan dan kebingungan. Wallahu A’lam.



Penulis             : M Nashirudin, M.Ag. dan Sidik Hasan, M.Ag.
Penerbit           : Jaring Pena Surabaya
Cetakan           : I, Februari 2009
Halaman          : x + 294 halaman

0 komentar: