Jumat, Oktober 22, 2010

Greediness, Pangkal dari Krisis Global 2008

Pada medio 2008 lalu, dunia digemparkan dengan gejolak krisis global yang berawal di negeri adidaya Amerika Serikat. Krisis tersebut telah meruntuhkan perusahaan-perusahaan ternama di negeri paman sam tersebut, seperti Lehmann Brother, Merryl Linch dan AIG Corp. Krisis tersebut juga telah meruntuhkan perekonomian di belahan dunia lainnya. Mulai dari daratan Eropa hingga Asia tak luput dari pengaruh krisis tersebut. Dan hingga kinipun banyak permasalahan-permasalahn akibat krisis yang belum terselesaikan.
Jika ditelusuri lebih lanjut, krisis ini sebenarnya berawal dari tingkat keserakahan (greediness) manusia yang sangat tinggi. Mengapa demikian dan bagaimana keserakahan manusia ini bisa berimbas mendalam bagi peerkonomian dunia?


Semuanya berawal dari Loan to Deposit Ratio (rasio kredit terhadap simpanan) di Amerika Serikat yang terus menurun, sehingga bank-bank di sana berusaha mencari cara agar mereka dapat menjaring nasabah pengguna kredit sebanyak-banyaknya sehingga keuntungan merekapun bisa meningkat. Ketika itu, masyarakat Amerika yang pantas dan mampu untuk mendapatkan kredit (golongan prime mortgage) sudah memasuki titik jenuh sehingga lembaga-lembaga keuangan di sana mulai membidik golongan masyarakat yang sebenarnya tidak pantas untuk mendapatkan kredit (golongan subprime mortgage). Meskipun tingkat resiko gagal bayar sangat tinggi, namun lembaga-lembaga keuangan di sana telah dibutakan oleh tingkat suku bunga yang tinggi dan jaminan rumah. Lembaga-lembaga keuangan di sana hanya mencari keuntungan sesaat semata tanpa menghiraukan akibat dari perbuatan tersebut. Pada akhirnya, lembaga-lembaga keuangan beramai-ramai mengucurkan subprime mortgage dengan tujuan maksimasi keuntungan. Para “calo” ditunjuk dan dipekerjakan untuk mensosialisasikan program ini, yang pada akhirnya banyak masyarakat yang terbuai dengan rayuan “calo-calo” tersebut dan bersedia menerima kredit tersebut.
Pada awalnya, subprime mortgage ini menghasilkan keuntungan yang besar bagi lembaga-lembaga keuangan di Amerika. Hal ini membuat mereka semakin giat untuk melancarkan kegiatan ini. Dan lebih lanjut mereka mengkonversi surat-surat hutang mereka di pasar derivatif dan menjadikannya sebagai salah satu instrument derivatif yang tentu saja menguntungkan bagi pihak manajemen lembaga keuangan. Apalagi dengan adanya Fannie Mae dan Freddie Mac, lembaga-lembaga keuangan di sana merasa aman saja untuk semakin mengembangkan investasi ini (investasi derivatif), sehingga gelembung ekonomi pun (bubble economic) semakin membesar dan tinggal menunggu waktu pecahnya saja.
Dan akhirnya, pada medio 2008, balon tersebut pecah. Diawali oleh gelombang gagal bayar dari para nasabah subprime mortgage yang berimbas pada jatuhnya harga derivatif yang dijaminkan pada surat-surat hutang perumahan tersebut. Akhirnya, perusahaan-perusahaan besar limbung dan meminta bantuan sana-sini. Freddie Mac dan Fannie Mae diselamatkan pemerintah. Merryl Linch harus diakuisisi oleh saingannya, Bank of America. Dan yang lebih parah adalah Lehmann Brothers yang harus bangkrut terkena dampak krisis tersebut.
Dengan ini kita dapat melihat sedikit hikmah, bahwa keserakahan lembaga-lembaga keuangan di Amerika dalam menjaring kredit telah mengakibatkan jatuhnya perekonomian di sana. Selain itu, hal ini semakin memperjelas bahwa ekonomi konvensional yang berbasiskan keserakahan memiliki banyak kekurangan dan kelemahan, sehingga dapat merugikan seluruh umat manusia.

0 komentar: